Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2015

Andai Kamu Tahu

Andai kamu tahu Seseorang dari masalalumu menunggumu Dengan sebuah kayakinan yang tersekat di dasar hati Bahwa kau akan kembali. Andai kamu tahu Bahwa ada seonggok sampah yang selalu setia padamu Setia mendoakanmu saat mata melihat gelap Setia mengharapkanmu meski sudah kau hancurkan beribu kali. Andai kamu tahu Disini tempat dimana puisi ini di tulis  Ada seseorang yang masih memenjarakanmu

Surat Untuk Kenangan

Kenangan adalah cerita yang sudah usai Tapi bukan berarti ingin ku raibkan Bukan pula ingin kubangkitkan Hanya menegaskan. Kenanganku denganmu masih hangat Masih memeluh urat nadiku Aku inginmu, inginkan semua tentangmu Meski ku tahu bahwa sang waktu enggan untuk di putar. Lewat surat ini kukirim sebaris mantra Kau bisa mengunyahnya saat kau mengingat namaku Seperti yang kulakukan saat malam

ALLAH ITU DEKAT

Puisi Allah itu dekat Dia selalu bisa melihat apapun yang kita kerjakan Kebaikan keburukan kemunafikan Semuanya ia tahu Allah itu dekat Dia selalu mengetahui apa yang ada di dasar kalbu Ketulusan kejujuran iman Semuanya ia tahu Allah itu dekat Dia selalu membaca apa yang sedang berputar di otak Rencana jahat baik pikiran kotor Semuanya ia tahu Allah itu dekat Engkau tahu itu

Jalan Takdir

Aku harus menerima semua kenyataan ini Kenyataan bahwa aku ini adalah seonggok sampah yang pantas ada di bawah kaki Aku selalu menjadi rentetan kegagalan dalam hidupku Aku pecundang yang setia. Apakah takdir begitu membenciku Hingga rasanya tidak ada sedikit keadilanpun yang memihakku Beginikah cara takdir memprrmainkanku? Sakit juga rupanya, karena kupikir hanya bebal. Aku memang rapuh

Cinta Bodoh Yang Ku Punya

Di pucuk surat itu kuwarna setia dengan rindu yang masih enggan pergi Berharap doaku selalu tuhan jabah Untukmu aku rela bodoh dan tolol Untukku melihatku saja kau enggan. Kita adalah dua jasad yang berdarah karena cinta Cintaku memenjarakanku di sudut kubur Matipun tidak terlihat menakutkan Iya aku mati dengan cinta yang kupunya. Tiada hal yang salah dalam hal mencintai Yang salah adalah

AKU MEMBENCIMU

Daku teramat sangat membencimu Namamu adalah minyak pembara amarah Rasa benci muak jijik menjadi satu Kental kentara. Daku teramat sangat membencimu Setiap kali mengingatmu Hatiku hancur dan otakku beku Rasanya tangan ini jelatang. Daku teramat sangat membencimu Bayangmu saja adalah ubun amarah Ragamu adalah dendam lautan yang siap menenggelamku Benci teramat benci aku padamu. Daku

INGIN MEMELUKMU

Ingin aku memelukmu Teramat ingin malah Ingin rasanya kujamah semua lekukmu Hangat dan tentram menyeruak bagai menyan. Ingin aku memelukmu Melingkar jasadmu yang ringkih Dengan sederhana Sesederhana pucuk rinduku padamu. Ingin aku memelukmu Membelai bulu kepalamu yang jagad Mencumbu bau yang sedang kawin di sana Menghirup bak kumbang penjilat merah. Ingin aku memelukmu Menyeretmu

SAAT HUJAN TURUN

Saat kutatap cakrawala di atas kepala Yang kulihat adalah gelap Bukan lagi putih biru samudera Yang kulihat adalah bendungan air yang menjelma menjadi awan. Perlahan lahan detik demi detik dan waktu demi waktu Air yang terjun bebas tanpa halang tanpa hijab itu akan menghantam bumi Air itu akan melewati beratus ratus meter untuk bisa memeluk bumi beserta tanah Maka turunlah ia dari langit yang

MALAM YANG SEPI

Di malam yang sepi ini Tiada bisa sedikitpun kukatub kedua bola mataku Entah sampah apa yang ada di dalam lingkaran otakku Hingga melelap gelap saja sulit. Di malam yang sepi ini Yang bersuarakan jangkrik dan hening Aku merasa bisu memanggilku dalam malam dan gelap Aku tiada bisa menutup mataku, tidak sama sekali. Di malam yang sepi ini Aku terbaring bagai jasad yang tiada nyawa Aku terbujur

NIKMAT TUHANMU YANG MANAKAH YANG KAU DUSTAI

Nikmat tuhanmu yang manakah yang kau dustai? Setiap deburan nafas yang kau hirup Denyutan urat nadi Masih bisa menelan umpan. Nikmat tuhanmu yang manakah yang kau dustai? Dikau memiliki tempat untuk berteduh dari dingin dan panas Masih bisa melangkah jarak dengan kedua kakimu yang berkejaran Bisa berlari dan melelet. Nikmat tuhanmu yang manakah yang kau dustai? Udara yang kau hirup

MALAIKAT DI BAWAH HUJAN

Puisi- Di bawah hujan itu aku menemukan seseorang yang teramat berarti. Seseorang yang dengan mudahnya bisa merenggut dukaku. Seseorang yang dengan mudahnya menyadarkanku bahwa hidup ini terus berjalan. Seseorang yang hanya dengan seulas senyum mampu menyeret ku kelangit. Di bawah hujan itu aku menemukan seseorang yang teramat kucintai. Seseorang yang denganya aku selalu merasa senang

PENUTUP AIRMATA

Baca puisi: tuhan jaga dia dengan rindu Pernahkah kau berpikir tentang aku? Sekali saja takperlu lebih Adakah kau anggap aku ada, perasaanku? Atau kau hanya anggap aku mainan yang bisa kau seret seret Lalu kau bantingku ke dinding. Tidakkah kau mengerti dada ini? Sekali saja takperlu lebih Selama ini aku selalu tabah di depanmu Menunjukkan bahwa semua baik baik saja. Dan kau

TUHAN JAGA DIA DENGAN RINDU

Puisi cinta- Jika jarak adalah jurang yang memisahkan Maka rindu adalah jembatan yang saling menghubungkan Sama seperti uang di dompet Rindu di hati harus di bayar lunas. puisi cinta Saat meringkih sesak  ketika rindu bergejolak Pedih perih rasanya yang tiada tertahan Sakit sakit oh tuhan Kenyataan bahwa dirinya tiada merindukan daku. Rindu juga bisa bertepuk sebelah tangan Saat

HATI YANG TERAMAT SANGAT SAKIT

Puisi Kalbuku hancur berkeping keping bagai debu yang beterbangan Hampa nista serta luka itulah yang kurasakan Hancur lebur tanpa bekas, hancur semua tanpa harapan Hatiku hancur hatiku hancur Puisi Tuhan tolonglah daku Jadikanlah daku setegar batu karang di lautan yang tidak terkikis ombak Jadilah hamba orang yang tidak pernah tahu apa itu lelah Hatiku hancur tak tersisa, tiada yang

MANTRA PENIKMAT SENJA

Puisi cinta Senja itu selalu mengingatkanku akan sekelebat hangat. Hawa hangat yang menyeruk kulit hanya untuk bertemu. Bercumbu lalu kabur Merengkuh lalu dorong Sekelebat hangat tubuh seorang hamba Yang selalu indah parasnya Yang selalu gula tawanya Yang mudahnya menyeret masuk kalbu Sesosok yang begitu mudah datang Begitu mudah pula pergi Tanpa pamit tanpa di undang Itulah